Hari ini banyak sekali pembelajaran
yang bisa tangkap mengenai konseling dan wawancara, yakni..
Nanti sebagai seorang psikolog
pasti tidak akan asing lagi mendengar kata konseling atau wawancara, pasti hal
tersebut adalah makanan sehari – hari, maka dari itu kitas harus mengetahui hal
– hal yang menjadi poin – poin dari konseling dan wawancara.
Untuk konseling, sebagai konselor
yang baik selain harus bisa berempati kita di tuntut untuk melakukan rapport
terlebih dahulu, rapport adalah perkenalan atau bisa dibilang sebagai basa basi
sebelum kita memulai sesi konseling. Sebagai konselor yang baik kita tidak
boleh menjudge seseorang yang sedang berkonseling kepada kita, kita juga harus
menjauhkan praduga praduga terhadap orang tersebut. Maka dari itu kita harus
mengetahui konsep serta permasalahan apa yang di hadapi. Kita juga harus
mengumpulkan data data demi memperkuat diagnose kita terhadap seseorang yang
sedang kita konseling. Konseling hadir karna adanya masalah yang ingin kita selesaikan
guna kebaikan orang tersebut, sementara wawancara yakni di lakukan untuk
mengetahui suatu kopetensi apa yang dimiliki orang tsb jika dalam konteks
perusahaan, pastinya setiap perusahaan yang akan merekrut karyawan menggunakan
teknik wawancara, karena dengan teknik wawancara kita dapat melihat sisi
kepribadian atau pun verbalisasi dia dari sikap ia berbicara, dari situlah kita
dapat melihat apakah orang ini sesuai dengan apa yang sedang kita butuhkan di
perusahaan.
sebagai psikolog nantinya saya selalu bertanya - tanya apakah profesi tersebut signifikan kehadirannya di Indonesia, karna berbeda sekali antara psikolog dengan dokter. mungkin ketika kita sakit kita langsung pergi ke dokter, sementara ketika kita punya masalah kita belum tentu langsung pergi ke psikolog untuk konsultasi, bukan begitu? tapi sekarang saya tau jawaban nya…. beberapa fakta hari ini yang menunjukan bahwa mengapa orang segan ke psikolog yakni karena urusan ekonomi salah satunya. psikolog adalah perkerjaan yang mulia sekali bagi saya, kita selalu memanusiakan manusia, yaa… simpel nya seperti itu. melihat hal hal kecil dari manusia itu dan kita kembangkan untuk manusia itu sendiri.
lalu saya bertanya bagaimana dengan penghasilan psikolog? wong, hidup juga butuh uang, bukan begitu? ya… saya kembali menemukan jawabannya kembali. sebagai calon psikolog apalagi dibagian klinis, tolong jangan mengedepankan materi karna klinis rata-rata berpusat kepada pelayanan masyarakat. oleh karena itu saya berfikir ketika saya memutuskan untuk mengambil kilinis, biarlah itu menjadi ladang amalan saya terhadap tuhan dan sisanya saya bisa menjadi pengusaha mungkin. hehe..
terimakasih, semoga bermanfaat.