Rabu, 01 Juni 2016

WAWANCARA DAN KONSELING


Hari ini banyak sekali pembelajaran yang bisa tangkap mengenai konseling dan wawancara, yakni..
Nanti sebagai seorang psikolog pasti tidak akan asing lagi mendengar kata konseling atau wawancara, pasti hal tersebut adalah makanan sehari – hari, maka dari itu kitas harus mengetahui hal – hal yang menjadi poin – poin dari konseling dan wawancara.


Untuk konseling, sebagai konselor yang baik selain harus bisa berempati kita di tuntut untuk melakukan rapport terlebih dahulu, rapport adalah perkenalan atau bisa dibilang sebagai basa basi sebelum kita memulai sesi konseling. Sebagai konselor yang baik kita tidak boleh menjudge seseorang yang sedang berkonseling kepada kita, kita juga harus menjauhkan praduga praduga terhadap orang tersebut. Maka dari itu kita harus mengetahui konsep serta permasalahan apa yang di hadapi. Kita juga harus mengumpulkan data data demi memperkuat diagnose kita terhadap seseorang yang sedang kita konseling. Konseling hadir karna adanya masalah yang ingin kita selesaikan guna kebaikan orang tersebut, sementara wawancara yakni di lakukan untuk mengetahui suatu kopetensi apa yang dimiliki orang tsb jika dalam konteks perusahaan, pastinya setiap perusahaan yang akan merekrut karyawan menggunakan teknik wawancara, karena dengan teknik wawancara kita dapat melihat sisi kepribadian atau pun verbalisasi dia dari sikap ia berbicara, dari situlah kita dapat melihat apakah orang ini sesuai dengan apa yang sedang kita butuhkan di perusahaan.

sebagai psikolog nantinya saya selalu bertanya - tanya apakah profesi tersebut signifikan kehadirannya di Indonesia, karna berbeda sekali antara psikolog dengan dokter. mungkin ketika kita sakit kita langsung pergi ke dokter, sementara ketika kita punya masalah kita belum tentu langsung pergi ke psikolog untuk konsultasi, bukan begitu? tapi sekarang saya tau jawaban nya…. beberapa fakta hari ini yang menunjukan bahwa mengapa orang segan ke psikolog yakni karena urusan ekonomi salah satunya. psikolog adalah perkerjaan yang mulia sekali bagi saya, kita selalu memanusiakan manusia, yaa… simpel nya seperti itu. melihat hal hal kecil dari manusia itu dan kita kembangkan untuk manusia itu sendiri. 
lalu saya bertanya bagaimana dengan penghasilan psikolog? wong, hidup juga butuh uang, bukan begitu? ya… saya kembali menemukan jawabannya kembali. sebagai calon psikolog apalagi dibagian klinis, tolong jangan mengedepankan materi karna klinis rata-rata berpusat kepada pelayanan masyarakat. oleh karena itu saya berfikir ketika saya memutuskan untuk mengambil kilinis, biarlah itu menjadi ladang amalan saya terhadap tuhan dan sisanya saya bisa menjadi pengusaha mungkin. hehe.. 

terimakasih, semoga bermanfaat.